Resensi Buku Pegustian dan Tumenggung

Buku tentang Pegustian dan Tumenggung : akar Sosial, Politik, Etnis, dan dinasti perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906.
Buku ini menceritakan tentang perlawanan terhadap kolonialisme dalam sejarah Indonesia. Kesimpulannya, konflik dinasti kerajaan Banjar yang terjadi pada abad-18 telah mengundang campur tangan Belanda dengan mendukung salah satu pihak yang sedang bertikai. Oleh Belanda yang mengadakan ekspansi, konflik Kesultanan Banjar diselesaikan dengan membagi dua Kesultanan Banjar, yaitu daerah Gubernemen yang berada di bawah pemerintahan Belanda secara langsung dan tanah-tanah Sultan sebagai “pinjaman” (fief)dibawah Dinasti baru yang didukung Belanda, Panembahan Nata.
Pada abad ke 19 keturunan Panembahan Nata menghadapi konflik internal karena harus mengakomodasikan kepentingan-kepentingan Belanda. Pada tahun 1840-an sedimen-sedimen batu bara ditemukan di Kesultanan Banjar, Belanda meminta konsesi pertambangan dari Sultan, yang akhirnya diperoleh. Kemudian, konflik dinasti kembali melanda kesultanan Banjar, Pangeran Hidayatullah dan Tamjidillah. Belanda mendukung pihak yang sannggup menguntungkannya, yaitu Tamjidillah.
Asal-usul peperangan dimulai disini. Pangeran Antasari cucu pangeran Amir yang diasingkan bersama Pangeran Hidayatullah mengadakan pemberontakan. Pangeran Hidayatullah yang mendua terhadap Belanda, menyerah pada tahun 1862. Pangeran Antasari yang semula sendiri kemudian bergabung dengan kepala suku Dayak (muslim), Tumenggung Surapati. Dengan dukungan Surapati, Antasari dijadikan Panembahan Amirudin khalifatul Mukminin. Antasari kemudian mengangkat Surapati menjadi Pangeran Surapati bergelar Tumenggung, berarti bangkitnya Dinasti lama.
Antasari meninggal pada tahun 1862, dan dinasti Panembahan Nata berakhir dengan diasingkannya baik Tamjidillah maupun Hidayatullah. Sepeninggal Antasari, kerajan Banjar diteruskan oleh kedua orang puteranya. Keduanya menjadi raja dengan pemerintahan yang disebut dengan Pegustian. Perlawanpanjang di kalimatan Selatan dan Kalimantan Tengah yang dipimpin oleh keturunan Antasari dan Surapati berlangsung sampai tahun 1906 dengan meninggalnya Gusti Berakit pada 06 Agustus 1906. ( dalam Koentowijoyo, 2008:151).
Sehingga jikalau banyak sejarawan yang menganggap bahwa penulisan sejarah dengan menggunakan ekspose deskriftif-naratif hanya memaparkan tentang rentetan kejadian atau pun peristiwa-peristiwa saja, tetapi menurut R. Moh. Ali dalam bukunya pengantar ilmu sejarah, dijelaskan bahwa penulisan sejarah harus tersusun sesuia dengan urutan-urutan kejadian peristiwa sesuai dengan waktu kejadiannya, sehingga walaupun hanya memaparkan peristiwa-peristiwa sejarah tetapi dalam pemaparannya si penulis tidak boleh asal-asalan karena setiap peristiwa mempunyai tempat tertentu didalam urutan peristiwa dan didalam cerita yang dibuat oleh si penulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s